Pria Ini Dilempar dari Dalam Mobil di Usia 2 Tahun dan Menjelma Jadi Bintang Sepakbola

Pria Ini Dilempar dari Dalam Mobil di Usia 2 Tahun dan Menjelma Jadi Bintang Sepakbola

Malang betul bocah usia 2 tahun kelahiran April 1983 di Boulogne, Prancis. Di usia yang masih sangat belia tersebut, ia dilempar melalui kaca depan mobil. Beruntung nyawanya bisa terselamatkan meski hingga ia dewasa ada bekas luka besar di pipi kanan. Ia coba berusaha agar bekas luka itu dihilangkan namun tetap saja bekas luka itu ada, seperti jadi pengingat untuk dirinya soal perjuangan hidup.


Bicara soal perjuangan hidup, bocah laki-laki ini paham betul bagaimana melakukannya. Hidup di pinggiran kota Prancis yang sebagian masyarakatnya ialah imigran dari seluruh pelosok dunia membuat ia harus kuat demi bisa bertahan hidup.

Sepakbola kemudian jadi pilihan untuk ia bisa keluar dari masa kelam di usia belianya. Sayang cobaan kembali ia hadapi, fisiknya yang kecil dibanding dengan pria sebayangnya. Akademi sepakbola Lille kemudian melepas pemuda ini. Ditambah kemampuan akademisnya yang membuat akademi Lille tak bisa mempertahankannya.

Pemuda ini seperti mengutip dari laporan thesefootballtimes.co (08/02/18) kemudian pulang kampung ke Boulogne. Ia masuk ke akademi klub Boulogne dan harapan mulai terlihat untuk dirinya di lapangan hijau, ia diberi kesempatan untuk menjalani debutnya di kompetisi kasta keempat Liga Prancis pada uisa 18 tahun pada 2000 silam.


Setelah sempat membela satu klub kecil bernama Ales setelah lepas dari Boulogne, pemuda ini kemudian terpaksa harus bekerja mengikuti sang ayah jadi pekerja konstruksi demi bisa menyambung hidup. Namun keinginan kuatnya untuk bermain di lapangan hijau membuatnya kembali bermain untuk sebuah kejuaraan dan sukses menjadi pencetak assits terbanyak.

Prestasi kecil ini yang akhirnya membuat satu klub dari Ligue 1, Metz untuk meminangnya. Pemuda ini pun berangkat ke Metz dan menjelma jadi gelandang sayap kanan tumpuan klub tersebut. Agustus 2004, pemuda dengan codet di pipi kanannya ini kemudian meraih penghargaan Player of the Month. Penampilannya yang mengesankan pada Agustus di tahun itu ialah saat mampu mencetak 2 assits saat Metz bertemu klub kuat, Marseille di Stade Velodrome.

Singkat cerita, setelah merasa cukup bermain di Metz ia lalu memutuskan untuk menerima pinangan dari klub kuat Turki, Galatasaray. Opsi kepada dirinya ialah pinjaman enam bulan dan pembelian sebesar 3 juta euro jika bermain mengesankan di Liga Turki. Debutnya pada Februari 2005 dan masuk sebagai pemain pengganti selama 30 menit.

Penampilan pemuda ini kemudian begitu mengesankan. Legenda Rumania yang saat itu masih bermain di Galatasaray, Gheorghe Hagi bahkan sampai mendorong pihak manajemen untuk membeli pemuda ini. Hal itu pun terealisasi, ia mendapat sodoran kontrak selama tiga setengah tahun. Penampilannya yang impresif di sisi kanan lapangan pertandingan membuat fans Galatasaray memujanya sebagai bintang baru, mereka bahkan menyematkan julukan ke pemuda ini yakni Ferraribery, merujuk pada mobil Ferrari yang begitu melaju saat di pacu.

Awan hitam kemudian datang di kariernya. Ia seperti mengutip dari laporan bbc.co.uk (08/02/18) memutuskan mengakhiri kontraknya di pertengahan jalan. Alasannya ia belum mendapat upah selama empat bulan bermain di Galatasaray. Tindakan ini yang kemudian membuatnya berubah dari pahlawan menjadi musuh bersama fans Galatasaray. Kasus ini kemudian berlanjut dan tak berhenti begitu saja.

Bahkan kasus ini sampai berujung ke meja pengadilan. Proses hukum kasus ini seperti mengutip dari theguardian.com (08/02/18) hampir 2 tahun. "Tujuan kami memperpanjang kasus ini adalah mendapatkan ia untuk kembali bemain untuk klub dan mematahui kontraknya," kata Mehmet Helvaci, pengacara Galatasaray.

Pemuda itu sendiri sudah tak mau lagi bermain di Turki dan ingin membela Marseille. Galatasaray kemudian memberikan opsi pada dirinya yakni silahkan pergi ke Marseille namun ia harus membayar uang ganti rugi sebesar 10 juta euro. Pasang surut kariernya di lapangan hijau membuat pemuda ini justru jadi lebih kuat. Latar belakang hidupnya yang keras malah mendorongnya untuk terus bertahan.

Kembali bermain di Prancis bersama Marseille, ayah dari Seif el Islam Ribery, Mohammed Ribery, Hizya Ribery, Shakinez Ribery ini menjelma jadi bintang baru untuk sepakbola Prancis. Dua tahun di Stade de Velodrome, pemuda yang bernama lengkap Franck Henry Pierre Ribery tersebut sukses memberikan Piala Intertoto pada 2005 silam.


Pinangan dari jawaran Bundesliga, Bayern Munchen pun datang pada dirinya. Ribery pun hijrah ke Jerman untuk membela Bayern Munchen pada 2007 dan terus bertahan di Allianz Arena sampai detik ini. Ribery terbilang salah satu pemain asal Prancis yang cukup sukses di Jerman. Begitu banyak gelar yang ia persembahkan untuk publik Allianz.

Meski di perjalanan menuju tangga suksesnya tersebut suami dari Wahiba Belhami masih harus beberapa kali alami kasus kontroversial. Kini si bocah codet tersebut telah memasuki usia 34 tahun dalam hitungan tahun ia akan segera gantung sepatu namun kisah perjuangan hidupnya menginspirasi begitu banyak pemuda di Prancis atau bahkan di dunia.







Contact Us

Name

Email *

Message *

Categories

Arsip Blog